Breaking News

Tedi Yusnanda N Melontarkan Provokasi Akhir Tahun: Saatnya Berpikir Ilmiah, Bukan Emosional

Jabarmedsos.com - Pergantian tahun Masehi kembali menjadi momentum refleksi kolektif. Namun bagi Tedi Yusnanda N., Direktur Eksekutif Sarasa Institute, akhir tahun justru seharusnya tidak dirayakan secara banal dan seremonial. Ia menyebutnya sebagai momen “provokasi intelektual” untuk mengajak publik berpikir lebih dalam tentang sejarah, arah peradaban, dan masa depan Indonesia di tengah situasi global yang kian tidak menentu.

Menurut Tedi, pergantian tahun Masehi bukan sekadar urusan kalender, melainkan hasil dari proses panjang peradaban manusia. Ia mengingatkan bahwa sistem penanggalan yang digunakan dunia hari ini lahir dari sejarah panjang pemikiran ilmiah, mulai dari kalender Romawi kuno, reformasi Kalender Julian oleh Julius Caesar, hingga penyempurnaan Kalender Gregorian pada abad ke-16 yang akhirnya diterima secara global.

“Kalender itu produk ilmu pengetahuan, astronomi, dan konsensus peradaban. Jadi setiap kali kita merayakan tahun baru, seharusnya yang dirayakan bukan hanya angka, tetapi juga akal sehat manusia yang mampu membaca alam dan waktu,” ujar Tedi dalam keterangannya, akhir Desember.

Tedi menilai, refleksi sejarah menjadi semakin penting di tengah kondisi global yang penuh ketegangan. Konflik geopolitik, persaingan kekuatan besar dunia, krisis energi dan pangan, hingga wacana potensi perang dunia ketiga, menurutnya bukan isu fiksi, melainkan realitas yang harus dibaca secara rasional dan historis.

“Sejarah selalu menunjukkan bahwa perang besar tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari akumulasi krisis ekonomi, politik, dan kegagalan etika kekuasaan. Jika masyarakat tidak belajar sejarah, maka kita hanya mengulangnya dalam bentuk yang lebih brutal,” kata Tedi.

Dalam konteks Indonesia, Tedi secara tegas menyoroti persoalan korupsi yang menurutnya telah berevolusi menjadi megakorupsi. Ia menilai, skala dan pola korupsi hari ini tidak lagi bisa disebut sebagai penyimpangan individu, melainkan masalah struktural yang menggerogoti sendi negara dan merusak kepercayaan publik.

“Korupsi kita hari ini bukan lagi soal amplop atau suap kecil. Ini sudah megakorupsi, sistemik, dan sering kali dilindungi oleh relasi kuasa. Kalau ini tidak dibaca dengan nalar sejarah dan ilmu pengetahuan, publik akan terus digiring pada kemarahan emosional tanpa solusi,” tegasnya.

Meski demikian, Tedi menolak sikap pesimistis. Ia justru menekankan pentingnya membangun optimisme rasional, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, optimisme hanya bisa tumbuh jika masyarakat memiliki fondasi pengetahuan sejarah dan dasar ilmu pengetahuan yang kuat.

“Sejarah itu pembentuk karakter. Ia mengajarkan sebab-akibat, kegagalan, dan keberhasilan manusia. Tanpa pemahaman sejarah dan ilmu dasar, ruang publik akan dikuasai demagogi, bukan pedagogi. Perdebatan akan jatuh pada selera, emosi, dan fanatisme, bukan pada argumen ilmiah,” ujarnya.

Tedi juga menyinggung maraknya perdebatan publik yang cenderung emosional dan antikritik. Ia menilai hal tersebut sebagai gejala melemahnya nalar berpikir ilmiah di masyarakat. Padahal, menurutnya, bangsa yang besar justru dibangun dari tradisi berpikir kritis dan keberanian mengoreksi kekuasaan.

“Provokasi akhir tahun yang saya maksud adalah mengajak masyarakat berani berpikir, berani belajar, dan berani membaca sejarah. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penonton di tengah perubahan global, sekaligus korban di negeri sendiri,” pungkas Tedi.

Ia berharap, momentum pergantian tahun Masehi dapat dimaknai sebagai titik tolak untuk memperkuat kesadaran sejarah, membangun akal sehat kolektif, dan menumbuhkan optimisme berbasis pengetahuan demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

No comments