Breaking News

Kelas Detensi Melawan Algoritma Kekuasaan Lewat “Suar Nalar”


jabarmedsos.com — Di tengah arus informasi digital yang semakin bising, manipulatif, dan dikendalikan algoritma, band rock alternatif asal Bandung, Kelas Detensi, secara resmi merilis single perdana mereka berjudul “Suar Nalar” pada 10 Desember 2025. Peluncuran ini bukan sekadar debut musik, melainkan sebuah pernyataan politik-kultural yang tegas: perlawanan terhadap pembungkaman nalar kritis, kriminalisasi literasi, dan pemalsuan kebenaran di era digital.

Rilis resmi “Suar Nalar” digelar bersamaan dengan pameran arsip, diskusi, dan musik yang mengangkat isu pemberangusan buku di Bandung, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Momentum ini mempertegas posisi lagu tersebut sebagai bagian dari aktivisme budaya, bukan hiburan kosong.

Rilis Musik di Tengah Krisis Literasi dan Represi Pengetahuan

Kegiatan ini berlangsung di Jalan Garut No. 2, Bandung, dan terhubung langsung dengan gerakan literasi yang diinisiasi sejumlah komunitas, termasuk LawangBuku dan jejaring pegiat literasi Bandung. Acara tersebut merespons kasus penyitaan buku oleh aparat yang dijadikan barang bukti penangkapan aktivis muda, sebuah praktik yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai bentuk kriminalisasi pikiran.

Dalam konteks ini, “Suar Nalar” hadir sebagai medium alternatif perlawanan. Jika ruang diskusi dipersempit dan buku dicurigai, maka musik menjadi saluran lain untuk menyuarakan kegelisahan kolektif. Hak atas kebebasan berpikir dan berekspresi sendiri dijamin oleh Pasal 28E UUD 1945 dan Deklarasi Universal HAM, namun dalam praktiknya justru kerap mengalami penyempitan.

Kelas Detensi: Musik, Kedewasaan, dan Penolakan untuk Tunduk

Meski tergolong band baru, Kelas Detensi bukanlah pendatang polos. Personelnya berasal dari latar belakang musikal berbeda dan terinspirasi kuat oleh Seattle Sound era 1990-an, sembari membawa pengalaman hidup yang matang. Mereka secara sadar menolak anggapan bahwa idealisme hanya milik anak muda.

“Kedewasaan bukan alasan untuk diam,” menjadi semacam kredo tidak tertulis band ini.

Nama “Kelas Detensi” sendiri merepresentasikan pengalaman sosial tentang dikurung, dibatasi, dan didisiplinkan, baik oleh sistem pendidikan, norma sosial, maupun kekuasaan. Pilihan mereka menempuh jalur organik, membangun relasi dengan komunitas, tampil langsung, dan menolak formula industri arus utama, mempertegas sikap ideologis tersebut.

“Suar Nalar”: Lirik sebagai Kritik atas Disinformasi dan Algoritma

Lagu “Suar Nalar” ditulis dari diskusi panjang antara Aip dan Jes (vokalis sekaligus penulis lirik). Liriknya secara lugas menguliti realitas digital hari ini: manipulasi informasi, tekanan sosial, hingga peran kecerdasan buatan dalam memalsukan kejujuran.

“Satu persatu syarafmu ditumpulkan, diperdaya oleh tiran
Dan hiruk pikuk kecerdasan buatan, yang memalsu kejujuran.”

Baris ini menjadi kritik langsung terhadap algoritma media sosial, hoaks, dan produksi opini artifisial yang menggeser kebenaran dari ranah fakta ke sekadar narasi yang paling sering diulang. Lagu ini menegaskan bahwa kebenaran hari ini tidak lagi kalah oleh kebohongan, melainkan oleh viralitas.

Dibaca dengan Teori Kritis: Musik sebagai Perlawanan Pengetahuan

Pesan “Suar Nalar” menemukan relevansinya ketika dibaca melalui teori kritis dan radikal.

Dalam perspektif Mazhab Frankfurt, terutama Theodor Adorno dan Max Horkheimer, industri budaya bekerja dengan cara menumpulkan kesadaran kritis melalui repetisi, standardisasi, dan hiburan semu. Algoritma digital hari ini adalah bentuk mutakhir industri budaya: menyajikan ilusi kebebasan memilih, padahal sebenarnya mengarahkan kesadaran publik demi kepentingan ekonomi dan politik.

Sementara itu, Michel Foucault menegaskan bahwa pengetahuan selalu berkelindan dengan kekuasaan. Siapa yang berhak menentukan mana informasi “aman”, buku mana yang “berbahaya”, dan wacana apa yang “boleh beredar” adalah persoalan politik. Dalam konteks pemberangusan buku, “Suar Nalar” dapat dibaca sebagai praktik resistensi diskursif terhadap relasi kuasa tersebut.

Kritik juga mengarah pada kapitalisme informasi, sebuah sistem di mana perhatian publik menjadi komoditas. Dalam ekonomi perhatian ini, kebohongan bisa lebih bernilai daripada kebenaran, selama menghasilkan klik dan keterlibatan.

Kutipan sinis yang diangkat Kelas Detensi:

“feminist until you get married, anarchist until you get rich, atheist until your plan starting to falling down”

bukan sekadar humor, melainkan refleksi tajam tentang bagaimana idealisme sering dilunakkan oleh kenyamanan dan kepentingan. Namun bagi Kelas Detensi, kesadaran akan realitas justru menjadi alasan untuk tetap bersuara, bukan menyerah.

Musik, Literasi, dan Politik Ingatan

Lebih dari sekadar lagu, “Suar Nalar” berfungsi sebagai arsip emosional dan politik ingatan. Ia mengingatkan bahwa pemberangusan buku bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola panjang pembatasan pengetahuan. Dengan meleburkan musik ke dalam diskusi literasi, Kelas Detensi menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk slogan atau manifesto, tetapi juga dalam distorsi gitar dan teriakan lirik.

Epilog

Rilis “Suar Nalar” menandai kemunculan Kelas Detensi sebagai band yang sejak awal memilih berdiri di persimpangan musik, politik, dan kesadaran kritis. Di tengah banjir informasi digital yang kerap menyesatkan, lagu ini menjadi pengingat bahwa nalar tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu untuk disuarakan.

Ketika buku disita, diskusi dicurigai, dan kebenaran direduksi menjadi algoritma, Kelas Detensi memilih satu sikap: tetap bersuara. Dan selama suara itu masih berpijar, pembungkaman tak akan pernah sepenuhnya menang.

No comments