Breaking News

Perselingkuhan di Era Post-Truth: Ketika Pembenaran Pribadi Mengalahkan Moral, Drama Viral Berujung Tragedi (Oleh Redaksi)


Fenomena perselingkuhan hari ini tidak lagi berlangsung diam-diam. Ia tampil ke ruang publik dengan wajah baru: penuh drama, pembenaran emosional, dan sering kali dipertontonkan secara terbuka melalui media sosial. Ironisnya, semakin absurd alasan yang dikemukakan, semakin banyak pula yang membenarkannya. Inilah wajah perselingkuhan di era post-truth—ketika kebenaran tidak lagi diukur dari norma, etika, atau fakta, melainkan dari keyakinan dan perasaan subjektif semata.

Dalam banyak kasus, perselingkuhan tak berhenti sebagai konflik relasi. Ia berkembang menjadi pertikaian terbuka, kekerasan, bahkan berujung pada pembunuhan. Motifnya berulang: cemburu, harga diri yang runtuh, luka emosional yang tak terkelola, dan pembenaran diri yang tak terkoreksi.

Normalisasi yang Salah: Ketika Nilai Bergeser Menjadi Permisif

Di ruang digital, perselingkuhan kerap dibingkai sebagai “urusan perasaan”, “hak bahagia”, atau “takdir cinta”. Narasi ini berbahaya. Ia menggeser sesuatu yang secara norma jelas salah menjadi seolah-olah wajar dan dapat dimaklumi. Di sinilah post-truth bekerja: kebenaran objektif kalah oleh cerita personal yang dikemas dramatis.

Era ini melahirkan pola berpikir: kalau aku merasa benar, maka aku benar. Norma sosial, komitmen, bahkan dampak psikologis terhadap pasangan dan anak, tersingkir oleh narasi “aku berhak bahagia”. Akibatnya, perselingkuhan bukan lagi dipandang sebagai pelanggaran etika, melainkan sekadar “konsekuensi hubungan yang gagal”.

Data Bicara: Perselingkuhan Bukan Fenomena Pinggiran

Berbagai survei global menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan kasus sporadis. Puluhan persen responden dewasa mengaku pernah terlibat hubungan di luar komitmen. Di Asia, termasuk Indonesia, angka ini tergolong tinggi. Fakta ini menegaskan bahwa perselingkuhan telah menjadi persoalan sosial yang serius, bukan sekadar gosip selebritas atau drama rumah tangga.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak kasus kriminal menunjukkan bahwa konflik asmara—termasuk perselingkuhan—menjadi salah satu pemicu kekerasan interpersonal. Dari penganiayaan hingga pembunuhan, relasi yang rusak oleh pengkhianatan kerap berubah menjadi tragedi berdarah.

Media Sosial: Panggung Selingkuh dan Mesin Drama

Media sosial memainkan peran sentral dalam fenomena ini. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi ruang yang memfasilitasi kedekatan emosional di luar relasi resmi. Pesan pribadi, reaksi, dan atensi digital sering kali menjadi pintu masuk perselingkuhan emosional sebelum berujung fisik.

Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perselingkuhan modern dimulai atau difasilitasi oleh media sosial. Platform digital menurunkan hambatan moral: hubungan terasa “tidak nyata”, “sekadar chat”, atau “hanya teman online”. Padahal, dampaknya sangat nyata—rasa dikhianati, konflik terbuka, hingga kekerasan.

Lebih jauh, media sosial juga mengubah konflik privat menjadi konsumsi publik. Perselingkuhan diviralkan, diadili netizen, dan dijadikan tontonan. Drama personal berubah menjadi komoditas emosi, memperkeruh situasi dan memperbesar potensi konflik.

Agama dan Tanda Zaman: Rusaknya Batas Moral

Dalam perspektif agama, maraknya perselingkuhan sering dikaitkan dengan istilah zaman akhir: rusaknya batas halal dan haram, kaburnya rasa malu, serta dibenarkannya keburukan dengan dalih perasaan. Ketika pengkhianatan dianggap wajar dan kesetiaan dianggap naif, itu bukan sekadar krisis relasi, melainkan krisis nilai.

Agama menempatkan perselingkuhan sebagai pengkhianatan terhadap amanah, bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada tatanan sosial. Namun di era post-truth, suara moral ini kerap ditertawakan sebagai “tidak relevan” atau “terlalu normatif”.

Mitos Kuno, Masalah Abadi

Perselingkuhan bukan fenomena baru. Dalam mitologi Yunani, kisah Narcissus, yang jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri, merepresentasikan cinta yang berpusat pada ego. Banyak pelaku perselingkuhan modern sejatinya mencintai perasaan mereka sendiri, bukan tanggung jawab relasi.

Begitu pula mitos Pandora: satu tindakan membuka kotak petaka yang tak bisa ditutup kembali. Perselingkuhan bekerja dengan cara yang sama, sekali dibuka, dampaknya menjalar: kebohongan, konflik, kehancuran kepercayaan, dan sering kali, penyesalan yang terlambat.

Ketika Drama Berujung Nyawa

Yang paling mengerikan dari normalisasi perselingkuhan adalah ketika konflik emosional berubah menjadi kekerasan nyata. Banyak kasus pembunuhan berakar dari relasi yang dikhianati. Emosi yang dipicu kecemburuan, dipanaskan oleh opini publik, dan dilegitimasi oleh pembenaran diri, menciptakan kombinasi mematikan.

Perselingkuhan, dalam konteks ini, bukan sekadar soal cinta terlarang, melainkan soal kegagalan mengelola emosi, nilai, dan tanggung jawab sosial.

Mengembalikan Kebenaran ke Tempatnya

Perselingkuhan di era post-truth adalah alarm peradaban. Ketika kebenaran direduksi menjadi perasaan, dan moral dikalahkan oleh narasi personal, maka yang tersisa hanyalah kekacauan relasi. Media sosial, tanpa kesadaran etik, mempercepat kerusakan itu.

Sudah saatnya masyarakat berhenti memaklumi pengkhianatan dengan alasan kebahagiaan semu. Kebenaran tidak lahir dari seberapa kuat kita meyakini sesuatu, tetapi dari seberapa bertanggung jawab kita pada dampaknya. Tanpa itu, drama perselingkuhan akan terus berulang, dan dalam banyak kasus, kembali memakan korban.

No comments